JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS ditutup melemah tajam pada perdagangan Selasa (5/5/2026). Data pasar spot mencatat mata uang Garuda berada di level Rp17.405 per Dolar AS, melewati asumsi makro APBN 2026 sebesar Rp16.500 per Dolar AS.
Pelemahan ini memicu reaksi keras Ketua Umum Partai Daulat Kerajaan Nusantara (PDKN), Dr. Rahman Sabon Nama. Alumni Lemhannas RI itu mendesak Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi kinerja Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo.
Pelemahan rupiah bukan sekadar angka. Ini berpotensi kuat mendorong imported inflation, terutama pangan yang masih bergantung impor,” tegas Rahman di Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (6/5/2026).
Rahman menyebut kondisi saat ini kontras dengan pernyataan Gubernur BI pada April lalu yang menilai nilai tukar masih stabil. Menurutnya, dampak pelemahan akan berantai ke harga gandum, kedelai, gula, pakan ternak, hingga produk lokal yang memakai komponen impor.
Data Ekonomi yang Disorot PDKN:*
1. Utang Pemerintah: Rp9.638 triliun per Maret 2026
2. Defisit APBN: Rp240 triliun per Maret 2026
3.Harga Minyak Dunia*: Di atas asumsi APBN 70 USD per barel
4. Asumsi Kurs APBN 2026: Rp16.500 per Dolar AS
Berdasarkan pemantauan Asosiasi Pedagang Dan Tani Tanaman Pangan Dan Hortikultura Indonesia (APT2PHI), keluhan lonjakan harga bahan pokok sudah merata di berbagai daerah.
Senada, Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Wilson Lalengke, alumni PPRA-48 Lemhannas RI 2012, mendukung desakan evaluasi. “Kurs hampir Rp17.500 per Dolar AS adalah alarm bahaya. Kita tidak bisa lagi berpegang pada retorika ‘aman’ sementara harga beras meroket,” ujar Wilson, Rabu (6/5/2026).
Wilson meminta Presiden Prabowo meninjau serius kinerja tim ekonomi dan otoritas moneter. “Jika Gubernur BI dinilai gagal menjaga stabilitas nilai tukar sesuai amanat UU, maka pergantian pimpinan perlu dipertimbangkan demi kepentingan rakyat,” katanya.
Konfirmasi Bank Indonesia:
Hingga berita ini diturunkan, Gubernur BI Perry Warjiyo belum memberikan tanggapan resmi. Kepala Departemen Komunikasi BI, [Nama Pejabat], yang dihubungi terpisah mengatakan BI terus mencermati perkembangan pasar dan akan mengambil langkah stabilisasi sesuai koridor kebijakan. “BI memiliki instrumen moneter untuk menjaga rupiah. Fokus kami inflasi dan stabilitas sistem keuangan,” ujarnya.
Ekonom INDEF, [Nama Ekonom], menilai pelemahan rupiah dipicu sentimen global, termasuk penguatan indeks Dolar AS dan harga minyak. “Perlu sinergi fiskal-moneter. Copot Gubernur BI bukan solusi tunggal jika akar masalahnya eksternal,” katanya.
Redaksi












