Daerah

Akademisi di Rakernis Densus 88: Terorisme Kini Bergerak Lewat Digital dan Algoritma

55
×

Akademisi di Rakernis Densus 88: Terorisme Kini Bergerak Lewat Digital dan Algoritma

Sebarkan artikel ini

 

JAKARTA— Ancaman terorisme dan ekstremisme berbasis kekerasan kini berubah wajah. Jika dulu identik dengan organisasi tertutup dan rekrutmen konvensional, kini ancaman bergerak lebih cair melalui ruang digital, algoritma, komunitas virtual, hingga kerentanan psikologis generasi muda.

 

Perubahan itu menjadi fokus utama dalam Bedah Buku “Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital” pada Rapat Kerja Teknis Densus 88 Antiteror Polri TA 2026, Jakarta, Selasa (20/5/2026).

 

Forum dihadiri Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H., http://M.Hum., http://M.Si., M.M., Kepala BNPT Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono, S.I.K., M.H., dan Kadensus 88 AT Polri Irjen Pol. Sentot Prasetyo, S.I.K. Pertemuan mempertemukan perspektif keamanan, psikologi, hukum, teknologi, dan perlindungan anak untuk membaca ancaman terorisme modern yang bergerak lebih cepat dari pola penanganan konvensional.

 

Wakapolri menegaskan perubahan ancaman harus direspons dengan perubahan cara berpikir dan strategi pencegahan.

 

“Kita menghadapi ancaman yang tidak lagi tumbuh melalui organisasi besar dengan struktur formal, tetapi bergerak lewat ruang digital, algoritma, dan fragmen ideologi yang sulit dipetakan. Negara tidak boleh hanya hadir saat api sudah membesar. Pencegahan sosial harus hadir lebih awal, penegakan hukum jadi langkah terakhir yang terukur,” ujar Komjen Dedi Prasetyo.

 

Ia menilai mitigasi embrio terorisme tidak cukup mengandalkan penindakan. Literasi digital, perlindungan anak, dan kemampuan masyarakat membaca risiko sejak dini harus diperkuat.

 

Kepala BNPT Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono menambahkan, ancaman ekstremisme kini lintas sektor, lintas ruang, dan lintas generasi. Pencegahan harus dibangun lewat kolaborasi aparat keamanan, dunia pendidikan, keluarga, komunitas, hingga platform digital.

 

“Terorisme dan ekstremisme tidak lagi persoalan satu institusi. Pendekatan preventif penting agar negara membangun ketahanan masyarakat sebelum ancaman berkembang menjadi tindakan nyata,” ujarnya.

 

Kadensus 88 AT Polri Irjen Pol. Sentot Prasetyo menyebut pola ekstremisme kini lebih cair dan personal. Ancaman sering berawal dari paparan digital yang tidak terdeteksi.

 

“Kami memperkuat strategi penanggulangan yang adaptif, berbasis pencegahan, asesmen risiko, dan perlindungan kelompok rentan. Deteksi dini terhadap kerentanan anak dan remaja jadi kunci,” kata Irjen Sentot.

 

*Catatan Kritis Akademisi*

 

Para akademisi mengapresiasi buku “Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital”, sekaligus menyampaikan catatan agar strategi pencegahan lebih adaptif dan berbasis bukti ilmiah.

 

*1. Radikalisasi di era digital tidak lagi bertahap*

Psikolog forensik Dr. Zora Arfina Sukabdi menilai proses radikalisasi bisa mengalami lompatan cepat akibat intensitas paparan digital. Kerentanan generasi muda seperti alienasi sosial, merasa tidak terlihat, dan kehilangan makna jadi pintu masuk narasi ekstrem.

 

*2. Ekstremisme modern dibentuk algoritma dan identitas digital*

Guru Besar hukum pidana Prof. Harkristuti Harkrisnowo, S.H., M.A., Ph.D. mengatakan kelompok ekstrem kini membangun pengalaman emosional dan keterikatan psikologis yang menarik bagi generasi digital. Strategi penanggulangan harus berpijak pada HAM dan kebijakan berbasis bukti.

 

*3. Luka psikologis bisa jadi pintu masuk radikalisasi*

Psikolog forensik Dra. Adityana Kasandra Putranto menyoroti akar kerentanan sering kali berasal dari perundungan, krisis identitas, dan keterasingan sosial yang tidak tertangani. Intervensi perlu mencakup pendekatan klinis dan penguatan kesehatan mental.

 

*4. AI dan analisis data untuk deteksi dini*

Pakar analisis data Dr. Ismail Fahmi mendorong kolaborasi aparat dan komunitas riset membangun sistem deteksi dini berbasis kecerdasan buatan untuk mengenali anomali perilaku digital sebelum berkembang menjadi ancaman.

 

*Benang Merah: Penanganan Harus Berubah*

 

Para akademisi sepakat terorisme modern tidak bisa lagi dipahami dengan pola lama. Ancaman bergerak lewat ruang digital, dipengaruhi algoritma, kondisi psikologis, budaya visual, dan dinamika sosial yang kompleks.

 

Penanganannya membutuhkan sinergi psikologi, pendidikan, hukum, teknologi, perlindungan anak, dan masyarakat. Rakernis Densus 88 TA 2026 menjadi momentum memperkuat strategi penanggulangan terorisme yang lebih prediktif, preventif, dan berbasis ilmu pengetahuan, sejalan dengan Transformasi Polri.

 

*Caption Foto Ilustrasi:*

_Ilustrasi – Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo saat membuka Bedah Buku pada Rakernis Densus 88 AT Polri TA 2026._

 

*Tag:* `Densus 88`, `Polri`, `Terorisme`, `Ekstremisme`, `Rakernis 2026`, `Keamanan Siber`, `Perlindungan Anak`

 

( * )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *