Daerah

OTT KPK Jerat Rektor Unsoed, Wilson Lalengke: Lahir “Profesor Tanpa Nurani

50
×

OTT KPK Jerat Rektor Unsoed, Wilson Lalengke: Lahir “Profesor Tanpa Nurani

Sebarkan artikel ini

 

JAKARTA, Fakta86News.id – Kabar penangkapan Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Prof. Akhmad Sodiq, menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan Indonesia.

 

Peristiwa ini melengkapi deretan panjang keprihatinan atas runtuhnya marwah akademik. Ketika figur bergelar profesor yang seharusnya jadi benteng etika justru terjerat rasuah, publik disodori pemandangan memprihatinkan: hadirnya sosok “Profesor Tanpa Nurani.”

 

Kasus ini membuktikan korupsi di perguruan tinggi bukan lagi sekadar oknum khilaf. Ini buah pembusukan sistemik yang berakar lama. “UGM saja bisa kebobolan dengan kasus Jokowi dan UI dengan kasus Bahlil, bagaimana bisa berharap moralitas di lembaga lain?”

 

Pendidikan Jadi Pabrik Koruptor

 

Tokoh Etika Publik dan Aktivis Nasional, Wilson Lalengke, menyebut OTT Rektor Unsoed sebagai manifestasi pergeseran nilai dasar pengelolaan pendidikan.

 

Wilson menyoroti 4 poin krusial:

 

1. Komersialisasi Kampus

Lembaga pendidikan bergeser jadi entitas bisnis murni dengan logika kapitalistik: “menekan modal seminimal mungkin untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.” Kampus berubah jadi _money-making factory_, nilai keilmuan digantikan transaksi material.

 

2. Maraknya Pemburu Rente

Muncul _rent-seekers_ dan pemimpin transaksional. Perebutan jabatan dari kepala sekolah hingga rektor melahirkan sistem: “jabatan dibeli dengan uang.” Termasuk perburuan gelar doktor dan profesor.

 

3. Kebangkrutan Moral Profesor

Akibatnya lahir pemimpin korup. Bahkan profesor rela korupsi demi _break-even point_ modal yang dikeluarkan saat berebut jabatan.

 

4. Kurikulum Korupsi Era Disrupsi

Secara terselubung institusi menyajikan “mata kuliah” perilaku korupsi lewat keteladanan pimpinan.

 

“Jika rekrutmen pimpinan akademis didasari modal dana dan syahwat kekuasaan, maka nurani akan mati. Profesor yang ditangkap KPK bukti nyata betapa berahinya kepemimpinan transaksional membunuh jiwa pendidikan,” tegas Wilson, Jumat (21/08/2026).

 

*Keruntuhan Mitos Kebenaran Akademis*

 

Fenomena ini sejalan kritik Theodor Adorno soal _Culture Industry_ – ketika pendidikan jadi komoditas, etika lenyap. Michel Foucault dengan _Power/Knowledge_ – ketika gelar jadi alat kekuasaan, kebenaran ilmiah kalah.

 

Immanuel Kant mengingatkan lewat _Categorical Imperative_: manusia dan integritas tidak boleh jadi alat mencapai tujuan material.

 

Memulihkan Jiwa Universitas

 

Penangkapan Rektor Unsoed harus jadi momentum evaluasi total. Negara harus membongkar sistem rekrutmen pimpinan PT yang rawan intervensi politik dan komersialisasi.

 

“Jika benteng terakhir pembentukan karakter bangsa dipimpin ‘Profesor Tanpa Nurani’ yang jadi pedagang jabatan, masa depan peradaban bangsa terancam,” pungkas Wilson.

 

TIM/Redaksi Fakta86News.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *